Selasa, 11 September 2012

Sejarah Body Piercing


Tindik ternyata tidak hanya dikenakan oleh perempuan saja, para pria pun mengenakannya. Tidak hanya di zaman modern ini, namun sejak jaman dahulu kala para pria pun sudah mengenakannya sebagai ritual adat. Oleh karena itu, tak perlu heran lagi bila melihat para pria mengenakan anting atau perhiasan lain yang disematkan pada tubuh mereka.

Tindik tubuh (Body Piercing) sebenarnya sudah dikenal sejak 10 abad silam hampir di seluruh belahan dunia. Catatan sejarah menunjukkan, suku-suku primitif melakukan tindik sebagai bagian ritual adat dan penunjuk identitas derajat sosial.

Suku Indian melakukan body piercing dengan cara menggantungkan kait besi dibagian dada. Ritual yang disebut OKIPA ini diperuntukkan bagi lelaki yang akan diangkat menjadi tentara atau panglima perang. Sementara sebuah suku di India melakukan ritual menusuki tubuh dengan jarum yang panjangnya bisa mencapai sekitar satu meter untuk menghormati dewa, ritual ini bernama Kavandi.

Di Indonesia, tradisi tindik biasa dilakukan warga suku Asmat di kabupaten Merauke dan suku Dani di kabupaten Jayawijaya, Papua. Lelaki Asmat menusuki bagian hidung dengan batang kayu atau tulang belikat babi sebagai tanda telah memasuki tahap kedewasaan.


Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga sejak abad ke-17. Tak sembarangan orang bisa menindik diri, hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik kuping. Sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar cuping daun telinga.
Menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga, semakin cantik dan tinggi status sosialnya di masyarakat. Model primitif inilah yang akhirnya banyak ditiru komunitas piercing dunia.

Tindik telinga telah ada sejak berabad lalu. Pada tahun 1920 samapai 1960 di United States, tindik menjadi sesuatu yang sangat populer di kalangan wanita. Dan akhirnya ditiru/diadaptasi oleh kaum pria selanjutnya kaum Punk.

Oleh kalangan punk atau gerakan pasca-modern seperti grunge dan alternative, tindik tubuh dapat menjadi simbol pemberontakan atas kemapanan. Masih ada lagi berbagai sejarah lainnya mengenai penindikan tubuh ini dalam berbagai budaya di seluruh dunia.

Tindik tubuh merupakan hiasan yang disematkan pada tubuh manusia, benda yang digunakan biasanya terbuat dari tulang, gigi, atau tanduk binatang. Namun, pada masyarakat modern, piercing lebih banyak menggunakan bahan logam.

Tindik telinga juga tidak hanya berkembang di kalangan masyarakat Barat, tetapi berkembang pula di kalangan masyarakat Timur. Pada tahun 1980an pria-pria hanya menindiki salah satu dari telinganya. Tetapi saat ini tindik telinga dilakukan di kedua telinga, baik oleh wanita maupun pria.

Bagian tubuh yang disematkan tindik yang paling banyak dikenal oleh kalangan masyarakat adalah di bagian bawah daun telinga, perhiasan yang disematkan di bagian tubuh tersebut biasa dinamakan dengan anting-anting. Praktik ini umumnya diterapkan oleh banyak budaya, dan perempuan yang mengenakannya secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, perempuan yang sedang atau sudah beranjak dewasa biasa mengenakan anting untuk mengasosiakan kewanitaannya.

Tindik tubuh pun tidak hanya dilakukan di bagian telinga saja, tetapi dilakukan di bagian tubuh lain. Hal ini sudah terjadi cukup lama, sama lamanya seperti sejarah tindik telinga.

Bagian tubuh lainnya yang juga agak umum adalah pada bagian hidung, dagu, bibir bagian bawah, kening, dan sekitar pusar. Posisi penindikan yang dianggap ekstrim oleh sebagian orang, karena rasa sakit saat pembuatan lubang dan penyembuhan, adalah pada lidah, pipi, bahkan putting susu dan bagian kemaluan. Untuk posisi terakhir ini biasanya dimaksudkan untuk alasan kepuasan seksual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar